Adakah Hikmah dibalik Pandemi?


Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

Pandemi belum berlalu dan entah sampai kapan akan terus berlangsung. Setiap hari, semakin banyak terdengar kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi raji’un) yang terucap. Begitu pula pamphlet-pamflet yang isinya kurang lebih seperti ini, “Telah meninggal ….”, menandakan adanya nyawa yang telah tercabut dan kembali ke pemilik-Nya.

Pernahkah kita terpikirkan bahwa kita adalah makhluk yang semestinya bersyukur? Loh, kok bisa? Mari kita mencoba merenung sejenak bagaimana kehidupan kita sekarang. Meski penyakit merenggut nyawa seseorang yang berharga bagi kita, tapi sampai saat ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Masih diberi kesehatan. Masih bisa bernapas dengan baik tanpa adanya bantuan alat oksigen. Tidakkah hal ini patut disyukuri? Lihat, betapa sayangnya Allah kepada kita. Dia masih memberikan kesempatan agar kita menjalani sisa umur dengan amalan-amalan baik, bukan amalan buruk.

Disaat pandemi belum berakhir, terdengar kabar bahwa di beberapa daerah mengalami ujian berupa gempa bumi, banjir, dan sejenisnya. Sedangkan, sampai detik ini, kita masih bisa berada diatas kasur, merasakan betapa nikmatnya tinggal di rumah yang aman –meski tidak mewah. Kita menyadari betapa baiknya Allah, Dia tidak menurunkan ujian seperti yang mereka alami.

Namun, jangan lupa. Roda kehidupan akan terus berputar, bukan?

Pandemi belum berakhir, mengakibatkan timbulnya keresahan pada jiwa manusia. Tapi, tahukah kamu bahwa ternyata ada hikmah yang bisa kita petik dari adanya pandemi sekarang ini?

Mungkin, selama ini kita mengakui bahwa sesuatu yang mahal adalah barang-barang branded, mobil Alphard, rumah mewah. Tapi, ternyata, pandemi ini turun dengan membawa ajaran kepada kita bahwa yang mahal sesungguhnya adalah kesehatan. Ya, sebelum terjadi wabah, nikmat napas seringkali kita lalaikan. Tapi, sekarang yang sangat dibutuhkan adalah oksigen. Ketika seorang pasien sakit merasakan sesak napas, untuk bisa bernapas dengan normal, ia membutuhkan alat untuk membantunya. Dan, alat itu cukup tergolong mahal. Lantas, bagaimana untuk kita yang sampai detik ini masih diberikan oksigen secara gratis?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir Allah itu Baik #1

Takdir Allah itu Baik #2

Good-Looking bukan Segalanya