Menyalahkan Takdir
Ketika aku menginginkan suatu hal sebagai impian, lantas tak terwujud. Aku kecewa, menangis sejadi-jadinya, hatiku teriris.
aku merasa, aku adalah manusia paling sengsara.
menyalahkan keadaan, menyalahkan semua orang yang terlibat maupun tidak. bahkan sampai menyalahkan takdir. seolah Allah salah dalam menulis takdir.
dadaku sesak, aku tak tau harus berbuat apa.
Tapi, seiring berjalannya waktu aku terus belajar, aku terus mendalami ilmu agama. makin hari makin banyak yang kusesali dalam hidup. aku menjadi paham tentang apa itu 'takdir'.
Allah telah menulis takdir tiap insan sejak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. untuk seseorang yang telah mendalami agamanya dengan baik dan benar, satu kalimat ini menjadi ketenangan dalam hidupnya. artinya, apapun yang telah terjadi saat ini merupakan sesuatu yang telah Allah tuliskan dalam catatan yang dinamakan Lauh Mahfudz.
tentang takdir yang telah tertulis, aku tidak bisa mengelaknya. yang kutau, Allah Maha Baik, Dia tidak pernah dzalim sedikitpun terhadap hamba-Nya. Allah berkata dalam kalam-Nya, sesuatu yang kita anggap baik bisa jadi itu yang terburuk dan sesuatu yang kita anggap buruk bisa jadi itu yang terbaik untuk kita.
jadi, apa hakku dalam menyalahkan takdir? aku tak berhak menyalahkan takdir yang telah dituliskan untukku, entah itu baik atau buruk. tugasku hanya mengimaninya.
meski juga aku menginginkan banyak hal dan berbagai usaha telah kuraih, hasilnya sudah terlihat. Allah Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk hamba-Nya. walau hasilnya cukup mengecewakan, setidaknya aku telah menjalankan tugas. yaitu usaha.
ketika aku telah berusaha untuk menggapai impianku, dan aku menggantungkan semuanya kepada Allah, aku pun tidak mengharapkan hasil memuaskan. hasil akhirnya kuserahkan pada Allah. karena Allah lah sebaik-baik pengatur segala urusan.
hanya Allah tempat bergantung. dengan itu jika aku gagal, aku tidak akan kecewa. karena aku pun tau, ini adalah keputusan terbaik dari Allah untukku. mau tidak mau aku harus menerimanya dengan lapang dada.
satu hal yang perlu aku garis bawahi. Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya, dan tugas kita hanya berusaha. percayalah, hati akan tenang ketika menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar