Aku Iri Kepada Mereka
Kadang, aku iri..
kepada mereka yang lebih bahagia, dengan kekayaannya bisa pergi, hangout
kemanapun yang mereka inginkan, sangat mudah. Apalah aku yang hidup sederhana,
uang saja harus dihemat.
Kadang, aku iri..
kepada mereka yang sukses, jabatannya tinggi, dapat panggilan kemana-mana. Apalah
aku yang masih harus berjuang, bahkan rasa malas sering melanda.
Kadang, aku iri.. kepada
mereka yang belajarnya mudah, tak ada kesulitan yang mengganggunya, tak ada
keresahan yang dihadapi. Apalah aku, belajar harus cari-cari waktu karena
banyak hal yang harus lebih kuprioritaskan.
Tapi,
Aku sadar, ini adalah
was-was syaithon untuk membuatku tidak bersyukur apa yang aku miliki.
Aku sadar, Allah telah
memilihkan jalan hidup yang berbeda pada tiap insan. Dan, inilah jalanku.
Aku sadar, harta dan
jabatan, itu hanyalah dunia yang bersifat sementara. Bukan segalanya. Untuk apa
memiliki harta berlebih tapi tak digunakan kepada hal-hal yang bermanfaat
seperti yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, infak misalnya. Untuk apa
memiliki jabatan tinggi jika kelak akan membuat hati rendah diri? Bukankah semua
itu bakal dipertanggungjawabkan?
Ketika semua itu
terlintas dalam benakku, aku harus mengusiknya dengan melakukan hal lainnya. Aku
memiliki keluarga lengkap disaat ada orang yang tidak punya orangtua. Aku tinggal
dirumah yang melindungiku dari panas dan hujan, sedangkan diluar sana ada yang
terpaksa singgah di tempat berbau. Aku masih bisa makan, minum, mandi dengan
air bersih. Dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang harus aku syukuri.
Namun,
Aku lebih iri dengan
mereka yang sukses dunia tapi tidak lupa akan kewajibannya mengejar akhirat. Manajemen
waktu yang baik, ibadah jalan terus, dunia dijadikan perantara bukan tolak
ukur.
Sekali lagi aku sadar,
Allah telah menuliskan garis takdir yang berbeda. Mengeluh akan keadaan tidak
akan mengubah hasil tapi doa bisa mengubah takdir.
Mungkin, nikmat yang
kita rasakan sekarang itulah yang diinginkan orang lain. So, buat apa iri
dengan kenikmatan orang lain?
Syukuri, syukuri,
syukuri.
Bukankah Rasulullah
mengatakan, untuk perihal dunia lihatlah kebawah dan keatas untuk perihal
akhirat? Jadi, ayo jadi hamba yang berkualitas. Bukan dunia yang dia impikan,
tapi keridhoan Allah yang ia cari.
Sabar dan syukur merupakan kunci ketenangan hidup.
Allah akan bersama orang-orang yang bersabar. Allah akan menjadikan segala kesulitan menjadi kemudahan. begitu janji Allah yang tertera di Al-Qur'an.
Jalani saja apa yang sedang terjadi. Selalu perbaiki niat. Semoga lelah kita lillah.
Komentar
Posting Komentar