Syukur Tak Bertepi
Syukur Tak Bertepi
“Syukuri aja apa adanya.”
Kurang lebih seperti itu nasihat yang
sering kita dapat dari teman atau keluarga. Memang mainstream tapi
bermakna. Terlebih jika betul-betul memahami tafsir dari kalimat tersebut,
sudah pasti auto menjadi manusia yang paling bahagia. Kenapa tidak,
karena salah satu kunci mendapat kebahagiaan di dunia adalah menanamkan rasa
syukur dalam hati dan mengamalkannya dengan anggota badan, sehingga kita tidak
terpengaruh dengan kondisi orang lain yang berada di puncak.
Benar. Rumput tetangga selalu lebih hijau.
Mau seberapa besar usaha kita untuk menyamai mereka, tetap saja mereka lebih
unggul. Sometimes memang kita harus menyendiri tanpa hiraukan kebisingan
dunia dan segala isinya.
Di suatu hari yang cerah, dibawah awan
putih yang hendak berpadu dengan birunya langit, ditengah luasnya bukit, kakimu
mencoba menapak rerumputan hijau yang bersatu dengan warna-warninya bunga.
Udara kali itu sangat menyegarkan penciuman. Seketika otakmu yang
kemarin-kemarin dipenuhi dengan masalah yang tiada habisnya, menjadi fresh.
Ya, sesekali kita butuh merefleksikan diri seperti ini.
Dalam kehanyutan takjub memandang alam yang
indah itu, tidakkah kamu berpikir siapa yang menciptakannya? Of course, Allah.
Tidakkah kamu berpikir, siapa yang menciptakan mata, hidung, dan telinga yang
saat itu dapat merasakan kesejukan udara yang kita nikmati dengan gratis? Of
course, Allah. Tidakkah kamu berpikir, diluar sana ada mereka yang tidak
dapat melihat, ada mereka yang tidak dapat keluar dikarenakan sedang melawan
sakit yang menggerogoti tubuh, ada mereka yang membutuhkan alat untuk sekedar
mendengar suara lantunan ayat suci quran?
Tentu saja kamu pasti mengetahui fakta itu.
Udara gratis yang kamu nikmati setiap harinya, sedangkan diluar sana banyak
manusia yang sedang kewalahan membutuhkan tabung oksigen. Lantas, apa yang
membuatmu tidak bersyukur, sedangkan wajahmu yang indah masih memiliki anggota
lengkap?
Tubuhmu berjalan, satu menit kemudian,
berlari kesana kemari. Kakimu tergerak bebas, rentangan tangan dan lebarnya
senyummu menunjukkan bahwa kamu sangat menikmati keindahan alam Allah itu. Pasalnya,
tiada lagi yang dapat menciptakan alam ini selain Allah. Maka, mulai lah bersyukur dari hal kecil semacam ini.
Komentar
Posting Komentar