Takdir Allah itu Baik #2

 

“Maaf. Anda dinyatakan tidak lulus. Tetap semangat ya!”

Tidak bisa percaya apa yang ia lihat, Fulan kembali merefresh web itu. Berulang kali untuk memastikan apa yang ia lihat adalah benar. Namun, tulisan yang keluar tetap sama. Tak bisa dipercaya, ia tidak lulus ujian perguruan tinggi negeri.

Ia menangis sejadi-jadinya. Merasa bahwa pengorbanannya selama ini sia-sia. Belajar, jatuh, bangun, tak ada yang tahu betapa hebatnya ia belajar. Saat ini ia merasa frustasi, sampai ia tidak mau makan seharian. Orangtuanya merasa kasihan kepada Fulan. Mereka tahu bahwa Fulan belajar sangat keras. Tapi hasilnya seperti ini.

Sudah hampir dua hari Fulan mengurung diri di kamar. Ia terus menangis, menyalahkan takdir. Bahkan sampai menyalahkan Allah –mengatakan bahwa Allah tidak adil. Ia mengambil hpnya kemudian membuka WhatssApp Group, menyaksikan bahagianya teman-temannya yang berhasil lolos masuk seleksi ujian perguruan tinggi negeri. Sungguh, menyesakkan sekali!

Ayah Fulan mengetuk pintu kamar dan meminta izin untuk masuk. Hatinya teriris kala melihat anaknya sangat lemah, terlihat dari ekspresi wajahnya yang pucat. Kemudian sang ayah mendekati anaknya, Fulan. Ia memeluknya, seolah paham apa yang sedang dirasakan oleh sang anak.

Ketika dirasa Fulan sudah lumayan tenang, sang ayah mulai menasihatinya dengan suara yang lembut, “Nak, ada apa denganmu? Apakah kamu merasa tidak terima dengan hasil ujianmu? Mengapa? Itu hanya nilai semata, tidak akan berubah jika kamu bersikap seperti ini.”

“Tapi, Ayah, aku sungguh menginginkan kampus itu. Aku setiap hari belajar keras demi mendapatkannya. Aku sudah minta ke Allah, karena yang kutahu Allah pasti akan kabulkan permintaan hamba-hamba-Nya. Ternyata, semua yang kulakukan selama ini percuma. Doaku tidak dikabulkan,” ujar Fulan dengan tatapan yang sungguh membuat orang lain ketika melihatnya akan merasa kasihan.

Sang ayah tersenyum kemudian menjawabnya, “Tidak ada yang sia-sia, Nak. Perkataanmu betul, kok, kalau Allah pasti mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya. Hanya saja, Allah memiliki cara tersendiri untuk mengabulkan doa. Pertama, doa itu akan langsung dikabulkan. Kedua, doa itu ditunda dan pemiliknya akan diselamatkan dari bala sesuai dengan kadarnya. Dan ketiga, doa itu akan disimpan di akhirat yang dijadikan sebagai pahala untuknya. Indah, bukan? Jika saat ini kamu merasa doamu tidak dikabulkan, mungkin saja Allah memang menyimpannya untuk kelak. Bukankah hal justru kita sedang menabung pahala?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir Allah itu Baik #1

Good-Looking bukan Segalanya