Takdir Allah itu Baik #3
Sang anak terlihat sudah tenang. Ayahnya melanjutkan
ucapannya, “Nak, Ayah tahu saat ini kamu merasa tidak terima dengan keputusan
ini. Ayah paham, kok. Namun, jangan sampai hal ini menjadikanmu berpikir bahwa
Allah tidak adil. Kata siapa Allah tidak adil, Nak? Ini sudah menjadi takdir
yang Allah tuliskan untukmu. Bukan berarti Allah hanya sekedar menulis takdir,
tapi Allah sudah tentukan mana yang baik mana yang buruk untuk hamba-Nya. Allah
tidak pernah dzalim, Nak. Ingat itu. Ketika Allah tidak mengabulkan
keinginanmu, maka bukan artinya Allah benci kepadamu. Tapi, Dia tahu, mungkin
ini tidak baik untukmu. Mungkin, jika Allah mengabulkannya saat ini, suatu saat
kamu menjadi sombong.”
Ayah tersenyum sambil mengakhirkan
perkataannya, “Percayalah, Allah sudah menyiapkan rencana terbaik untuk setiap
hamba yang sudah berjuang. Ayah tahu kamu anak yang kuat. Maka, terimalah ini
dengan lapang dada, ya, Nak,” kemudian Ayah keluar kamar.
Benar. Apapun yang terjadi, hal itu
merupakan kuasa dan takdir Allah yang sudah tertulis. Kita harus menerimanya
dengan lapang dada.
Fulan kembali tersenyum. Ia menyeka
sisa-sisa air matanya. Nasihat sang ayah berhasil membuatnya bangkit. Ia tidak
boleh terpuruk. Ia harus mencari cara lain untuk mewujudkan impiannya masuk
perguruan tinggi –meski sudah gagal di kampus impian. Ikhlas melepasnya,
kemudian Fulan mencari-cari informasi berkaitan penerimaan mahasiswa baru.
Sebulan telah berlalu. Tanpa diduga, ada panggilan
dari sekolah SMA-nya yang menyatakan bahwa ada pertukaran pelajar yang diadakan
oleh International University, sebuah kampus luar negeri yang lumayan
diminati banyak siswa. Fulan semula tidak tertarik karena biaya kampus tersebut
yang membuat dia menelan ludah. Panggilan dari SMA untuknya di hari itu
memberikan informasi bahwa Fulan terpilih menjadi salah satu delegasi pelajar
Indonesia yang diberi beasiswa untuk belajar di International University lantaran
mendapat nilai UN sempurna di dua mata pelajaran.
Sungguh kejadian ini sama sekali tidak
diduga siapapun. Ketika mendengar hal tersebut, Fulan tersenyum lebar. Ia senang
sekali. Tak lupa ia bersyukur kepada Allah atas rencana-Nya yang indah ini.
Tidak tahu harus bagaimana, setelah pemberitahuan ini, Fulan selalu mengucapkan
hamdalah karena saking bahagianya ia.
Benar. Rencana kita sudah sempurna, tapi
Allah yang menentukan bagaimana hasilnya. Dan, rencana Allah jauh lebih indah. Dia
tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Percayalah.
Komentar
Posting Komentar