Ujian - Sabar

Ujian - Sabar

Ujian kehidupan tak henti-hentinya terus turun pada tiap insan. Seolah sudah menjadi rutinitas sehari-sehari, ujian seperti kebutuhan primer layaknya sandang, pangan, papan. Namun, yang menjadi permasalahan utamanya adalah apakah kita lolos dari ujian tersebut?

Sebelum kita masuk ke topik itu, mari tanyakan dalam diri. Sebenarnya kenapa Allah memberikan ujian kepada kita? Mungkin sebagian dari kita sudah mengetahui jawabannya. Ada yang berpikir bahwa ujian diadakan, ya, memang untuk menguji. Menguji bagaimana kualitas sabar seseorang, menguji seberapa besar keimanan ia kepada Rabb-Nya.

Benar, kok. Tapi, pernah ngga sih ada satu pertanyaan yang terlintas dalam otak kita. Kenapa harus kita yang diuji? Misal, kita mendapat ujian berupa kehilangan barang berharga, orang yang dicintai, atau sejenisnya. Sedangkan yang lain tidak diuji seperti ujiannya kita. Pernahkah ada berpikiran seperti itu? Aku yakin sih, pernah.

Coba kita simak perkataan Allah dalam kitab-Nya di surat Al-‘Ankabuut ayat 2 yang artinya, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?

Nah, bagaimana? Sudah dapat value dari terjemahan ayat diatas?

Kita dilahirkan sebagai seorang muslim. Oh, mungkin sebagian ada yang tidak, lantas muallaf memeluk agama yang diridhoi Allah ini. Ketika kita sudah mengakui dalam jiwa bahwa kita adalah seorang muslim atau seseorang yang beragama Islam, bukan berarti kita tidak akan bebas dari ujian. Justru ini adalah tujuan Allah kepada manusia; seberapa besar keyakinan Islam itu tertanam dalam hati kita. Juga untuk mengetahui mana yang benar-benar bersabar atau menolak, bahkan menyalahkan Allah.

Dan sungguh Kami akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian, dan agar Kami menyatakan baik buruknya ihwal kalian.” (QS. Muhammad : 31)

Jangankan kita, Nabi yang merupakan seorang mulia utusan dari Allah, mereka juga mendapat ujian. Jangan berpikir bahwa ujian mereka sama dengan kita. Tidak, justru lebih berat. Yang membedakan kita dengan para Nabi adalah kualitas sabar. Maka kita pernah dengar istilah ulul ‘azmi, yaitu sebutan untuk para Nabi yang memiliki kesabaran yang sangat luar biasa.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita meneladani sikap orang-orang salih terdahulu dalam bersikap menghadapi ujian. Salah satunya dengan sabar. Bukankah kita sudah sering mendengar ayat yang akan membesarkan hati untuk orang-orang yang bersabar?

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Itulah mereka yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya).’. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya. Dan mereka lah orang-orang yang diberi petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 155-157)

Percayalah, Allah mencintai orang-orang yang bersabar dan pasti akan ada ganjaran dibalik kesabaran yang sudah kita usahakan.


#day1 #nulisyukbatch101

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir Allah itu Baik #1

Takdir Allah itu Baik #2

Good-Looking bukan Segalanya