Pandemi Mengajarkan Banyak Hal
Pandemi Mengajarkan Banyak Hal
Meski manusia kerap kali mengeluh adanya pandemi, namun sejatinya ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Salah satunya napas. Tahukah kamu bahwa napasnya seorang manusia normal adalah 14 – 20 kali per menit. Dan, salah satu ciri orang yang mengalami gejala covid-19 adalah sesak napas. Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya pasien covid ketika berusaha bernapas meskipun harus bersusah payah dengan alat bantu oksigen. Mungkin jika diperkirakan bisa lebih dari 20 kali napas per menit, atau bahkan kurang.
Maka, bersyukurlah duhai jiwa-jiwa yang masih diberikan pernapasan normal. Karena telah kita ketahui bersama, mayoritas pasien covid yang meninggal adalah akibat dari kesusahan dalam bernapas; padahal kita tahu bahwa bernapas merupakan kunci seseorang bisa bertahan hidup. Namun, ketika Allah berkata “berhenti”, kita bisa apa?
Pasien
covid yang saat ini tengah berbaring di ranjang rumah sakit, mereka memakai
alat bantu pernapasan untuk mengalirkan oksigen dalam tubuhnya. Sebagian besar
mengatakan bahwa alat itu mahal. Padahal, Allah sudah menyediakan oksigen
bersih secara gratis dimana-mana. Tapi, manusia kerap kali menyepelekannya.
Mereka mengotori udara yang bersih ini dengan polusi-polusi, rokok misalnya. Sedang kita tahu semua rumah sakit saat ini sangat kekurangan adanya penyediaan
oksigen saking banyaknya pasien yang membutuhkan.
Untuk anda yang sehat walafiat, apakah anda tidak akan menggunakan kesempatan gratis
ini dengan baik? Maka, sering-seringlah bersyukur duhai saudaraku.
Keluarga
adalah sosok lingkungan sebagai penghangat diri ketika sedang gersang dan
rapuh. Mungkin, sebelum pandemi turun, kita termasuk salah satu dari sekian
banyak orang yang sangat sibuk, untuk berkumpul dengan keluarga pun kita selalu
berdalih banyak kerjaan di kantor. Tidakkah kita berpikir bahwa hal ini membuat
kenangan sedih di hati orangtua akibat kelalaian kita yang jarang sekali
bertemu sapa dengan mereka?
Benar.
Keputusan pemerintah untuk lockdown beberapa tempat, membuat semua
kesibukan di kantor beralih kerjaan di rumah saja. Bukankah hal ini membawa
dampak positif dari semua belah pihak? Sebagai anak rantau, mungkin, ia sangat
senang akhirnya bisa pulang ke kampung halaman. Sebagai orangtua, mereka juga
senang akhirnya semua anggota keluarga bisa berkumpul kembali karena aktivitas
yang dirumah saja.
Bukankah kita terlalu sering melalaikan nikmat sehingga hal sekecil ini tidak kita syukuri? Napas, keluarga, bahkan waktu kita sebenarnya menjadi sangat luang. Sampai kapan kita akan terus lalai?
Komentar
Posting Komentar