Postingan

Kepada Diriku di Penghujung Tahun

Gambar
Tidak menyangka jari ini kembali bergerak untuk menuliskan apa yang sedang terpikirkan oleh kepala. Terinspirasi dari seseorang, kuingin kembali mengisi laman blog yang sudah hampir usang ini. Harapan itu semoga kembali ada. Mimpi itu semoga kembali muncul. Aku ingin menjadi penulis. Tulisan ini sebatas mengungkapkan sedikit dari sekian banyak perasaan yang terpendam. Dua ribu dua puluh empat. Hari-hariku terisi dengan banyaknya drama kehidupan. Seperti rollercoaster, kadang naik kadang turun. Kadang lurus kadang belok. Benar, mentalku sangat teruji. Tapi, itulah hakikat dunia. Luka yang tergores, trauma yang membekas, tangisan yang deras, dan tawa palsu yang miris.  Terima kasih Ya Allah, aku lemah tapi dikuatkan oleh iman. Terima kasih Ya Allah, aku lemah tapi tetap percaya dengan janji-Mu. Terima kasih Ya Allah, aku lemah tapi mengandalkan-Mu adalah satu-satunya cara agar aku bisa bertahan. Memang benar kata Allah dalam surah Ar-Ra'd ayat 28, "Ingatlah, hanya dengan menging...

Healing Kemana?

Adakalanya kepenatan dan kelelahan yang kita rasakan akan memuncak. Ingin sekali untuk merefreshkan diri sejenak. Sesederhana menghirup udara segar tanpa ada beban yang menggelegar. Ada yang memilih untuk mendaki gunung; Ada yang memilih untuk pergi ke pantai; Ada yang memilih untuk pergi memperbarui iman. Dan orang terakhir ini lah yang paling spesial. Ketimbang pergi ke tempat-tempat yang direkomendasikan oleh teman-temannya, ia lebih memilih untuk duduk di majelis ilmu.  Sadar bahwa kelelahan dan kepenatan yang dirasakan mungkin sebab dari dosa yang telah dilalaikan; Sadar bahwa yang perlu di-upgrade adalah iman, bukan foto yang terkoleksi di hp; Sadar bahwa salah satu tujuan hidup di dunia adalah untuk selamat di akhirat, bukan keliling tempat wisata. Maka tak perlu ke puncak gunung untuk menikmati indahnya sunset maupun sunrise, atau mencari semilir angin dan hamparan pasir putih di ujung birunya samudra untuk mendapatkan ketenangan setelah terterpa oleh kepenatan, kelelahan s...

Pandemi Mengajarkan Banyak Hal

  Pandemi Mengajarkan Banyak Hal      Meski manusia kerap kali mengeluh adanya pandemi, namun sejatinya ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Salah satunya napas. Tahukah kamu bahwa napasnya seorang manusia normal adalah 14 – 20 kali per menit. Dan, salah satu ciri orang yang mengalami gejala covid-19 adalah sesak napas. Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya pasien covid ketika berusaha bernapas meskipun harus bersusah payah dengan alat bantu oksigen. Mungkin jika diperkirakan bisa lebih dari 20 kali napas per menit, atau bahkan kurang.      Maka, bersyukurlah duhai jiwa-jiwa yang masih diberikan pernapasan normal. Karena telah kita ketahui bersama, mayoritas pasien covid yang meninggal adalah akibat dari kesusahan dalam bernapas; padahal kita tahu bahwa bernapas merupakan kunci seseorang bisa bertahan hidup. Namun, ketika Allah berkata “berhenti”, kita bisa apa?      Pasien covid yang saat ini tengah berbaring di ranjang ruma...

Adakah Hikmah dibalik Pandemi?

Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Pandemi belum berlalu dan entah sampai kapan akan terus berlangsung. Setiap hari, semakin banyak terdengar kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi raji’un) yang terucap. Begitu pula pamphlet-pamflet yang isinya kurang lebih seperti ini, “Telah meninggal ….”, menandakan adanya nyawa yang telah tercabut dan kembali ke pemilik-Nya. Pernahkah kita terpikirkan bahwa kita adalah makhluk yang semestinya bersyukur? Loh, kok bisa? Mari kita mencoba merenung sejenak bagaimana kehidupan kita sekarang. Meski penyakit merenggut nyawa seseorang yang berharga bagi kita, tapi sampai saat ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Masih diberi kesehatan. Masih bisa bernapas dengan baik tanpa adanya bantuan alat oksigen. Tidakkah hal ini patut disyukuri? Lihat, betapa sayangnya Allah kepada kita. Dia masih memberikan kesempatan agar kita menjalani sisa umur dengan amalan-amalan baik, bukan amalan buruk. Disaat pandemi belum berakhir, terdengar kabar b...

Takdir Allah itu Baik #3

  Sang anak terlihat sudah tenang. Ayahnya melanjutkan ucapannya, “Nak, Ayah tahu saat ini kamu merasa tidak terima dengan keputusan ini. Ayah paham, kok. Namun, jangan sampai hal ini menjadikanmu berpikir bahwa Allah tidak adil. Kata siapa Allah tidak adil, Nak? Ini sudah menjadi takdir yang Allah tuliskan untukmu. Bukan berarti Allah hanya sekedar menulis takdir, tapi Allah sudah tentukan mana yang baik mana yang buruk untuk hamba-Nya. Allah tidak pernah dzalim, Nak. Ingat itu. Ketika Allah tidak mengabulkan keinginanmu, maka bukan artinya Allah benci kepadamu. Tapi, Dia tahu, mungkin ini tidak baik untukmu. Mungkin, jika Allah mengabulkannya saat ini, suatu saat kamu menjadi sombong.” Ayah tersenyum sambil mengakhirkan perkataannya, “Percayalah, Allah sudah menyiapkan rencana terbaik untuk setiap hamba yang sudah berjuang. Ayah tahu kamu anak yang kuat. Maka, terimalah ini dengan lapang dada, ya, Nak,” kemudian Ayah keluar kamar. Benar. Apapun yang terjadi, hal itu merupakan...

Takdir Allah itu Baik #2

  “Maaf. Anda dinyatakan tidak lulus. Tetap semangat ya!” Tidak bisa percaya apa yang ia lihat, Fulan kembali merefresh web itu. Berulang kali untuk memastikan apa yang ia lihat adalah benar. Namun, tulisan yang keluar tetap sama. Tak bisa dipercaya, ia tidak lulus ujian perguruan tinggi negeri. Ia menangis sejadi-jadinya. Merasa bahwa pengorbanannya selama ini sia-sia. Belajar, jatuh, bangun, tak ada yang tahu betapa hebatnya ia belajar. Saat ini ia merasa frustasi, sampai ia tidak mau makan seharian. Orangtuanya merasa kasihan kepada Fulan. Mereka tahu bahwa Fulan belajar sangat keras. Tapi hasilnya seperti ini. Sudah hampir dua hari Fulan mengurung diri di kamar. Ia terus menangis, menyalahkan takdir. Bahkan sampai menyalahkan Allah –mengatakan bahwa Allah tidak adil. Ia mengambil hpnya kemudian membuka WhatssApp Group , menyaksikan bahagianya teman-temannya yang berhasil lolos masuk seleksi ujian perguruan tinggi negeri. Sungguh, menyesakkan sekali! Ayah Fulan mengetuk ...

Takdir Allah itu Baik #1

  Takdir Allah itu baik. Sangat baik. Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya dengan memberikan keputusan buruk. Keputusan-Nya selalu indah. Lebih indah dari yang kita bayangkan. Sesempurna rencana yang kita buat, ketika Allah mengatakan “tidak”, maka hasilnya tidak. Failed. Namun, banyak manusia merasa frustasi. Karena merasa telah melakukan usaha maksimal, tapi sia-sia begitu saja. Manusia tidak terima akan hal ini. Kita ambil contoh kasus. Seseorang, sebut saja Fulan, baru saja menginjakkan kakinya di tahun terakhir SMA-nya, ia memiliki impian untuk masuk ke perguruan tinggi ternama. Selain karena untuk membanggakan orangtuanya, ia ingin membuktikan dirinya bahwa ia mampu bersaing dengan orang-orang pintar –karena selama ini hanya berada di ranking tengah. Maka, di tahun terakhir SMA ini, Fulan bertekad akan mulai serius dalam belajar dan belajar. Dia tahu bahwa nilai rapornya standar dan ia agak pesimis apakah bisa mendaftar kuliah melalui nilai rapor. Namun, hal itu tid...