Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Adakah Hikmah dibalik Pandemi?

Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Pandemi belum berlalu dan entah sampai kapan akan terus berlangsung. Setiap hari, semakin banyak terdengar kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi raji’un) yang terucap. Begitu pula pamphlet-pamflet yang isinya kurang lebih seperti ini, “Telah meninggal ….”, menandakan adanya nyawa yang telah tercabut dan kembali ke pemilik-Nya. Pernahkah kita terpikirkan bahwa kita adalah makhluk yang semestinya bersyukur? Loh, kok bisa? Mari kita mencoba merenung sejenak bagaimana kehidupan kita sekarang. Meski penyakit merenggut nyawa seseorang yang berharga bagi kita, tapi sampai saat ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Masih diberi kesehatan. Masih bisa bernapas dengan baik tanpa adanya bantuan alat oksigen. Tidakkah hal ini patut disyukuri? Lihat, betapa sayangnya Allah kepada kita. Dia masih memberikan kesempatan agar kita menjalani sisa umur dengan amalan-amalan baik, bukan amalan buruk. Disaat pandemi belum berakhir, terdengar kabar b...

Takdir Allah itu Baik #3

  Sang anak terlihat sudah tenang. Ayahnya melanjutkan ucapannya, “Nak, Ayah tahu saat ini kamu merasa tidak terima dengan keputusan ini. Ayah paham, kok. Namun, jangan sampai hal ini menjadikanmu berpikir bahwa Allah tidak adil. Kata siapa Allah tidak adil, Nak? Ini sudah menjadi takdir yang Allah tuliskan untukmu. Bukan berarti Allah hanya sekedar menulis takdir, tapi Allah sudah tentukan mana yang baik mana yang buruk untuk hamba-Nya. Allah tidak pernah dzalim, Nak. Ingat itu. Ketika Allah tidak mengabulkan keinginanmu, maka bukan artinya Allah benci kepadamu. Tapi, Dia tahu, mungkin ini tidak baik untukmu. Mungkin, jika Allah mengabulkannya saat ini, suatu saat kamu menjadi sombong.” Ayah tersenyum sambil mengakhirkan perkataannya, “Percayalah, Allah sudah menyiapkan rencana terbaik untuk setiap hamba yang sudah berjuang. Ayah tahu kamu anak yang kuat. Maka, terimalah ini dengan lapang dada, ya, Nak,” kemudian Ayah keluar kamar. Benar. Apapun yang terjadi, hal itu merupakan...

Takdir Allah itu Baik #2

  “Maaf. Anda dinyatakan tidak lulus. Tetap semangat ya!” Tidak bisa percaya apa yang ia lihat, Fulan kembali merefresh web itu. Berulang kali untuk memastikan apa yang ia lihat adalah benar. Namun, tulisan yang keluar tetap sama. Tak bisa dipercaya, ia tidak lulus ujian perguruan tinggi negeri. Ia menangis sejadi-jadinya. Merasa bahwa pengorbanannya selama ini sia-sia. Belajar, jatuh, bangun, tak ada yang tahu betapa hebatnya ia belajar. Saat ini ia merasa frustasi, sampai ia tidak mau makan seharian. Orangtuanya merasa kasihan kepada Fulan. Mereka tahu bahwa Fulan belajar sangat keras. Tapi hasilnya seperti ini. Sudah hampir dua hari Fulan mengurung diri di kamar. Ia terus menangis, menyalahkan takdir. Bahkan sampai menyalahkan Allah –mengatakan bahwa Allah tidak adil. Ia mengambil hpnya kemudian membuka WhatssApp Group , menyaksikan bahagianya teman-temannya yang berhasil lolos masuk seleksi ujian perguruan tinggi negeri. Sungguh, menyesakkan sekali! Ayah Fulan mengetuk ...

Takdir Allah itu Baik #1

  Takdir Allah itu baik. Sangat baik. Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya dengan memberikan keputusan buruk. Keputusan-Nya selalu indah. Lebih indah dari yang kita bayangkan. Sesempurna rencana yang kita buat, ketika Allah mengatakan “tidak”, maka hasilnya tidak. Failed. Namun, banyak manusia merasa frustasi. Karena merasa telah melakukan usaha maksimal, tapi sia-sia begitu saja. Manusia tidak terima akan hal ini. Kita ambil contoh kasus. Seseorang, sebut saja Fulan, baru saja menginjakkan kakinya di tahun terakhir SMA-nya, ia memiliki impian untuk masuk ke perguruan tinggi ternama. Selain karena untuk membanggakan orangtuanya, ia ingin membuktikan dirinya bahwa ia mampu bersaing dengan orang-orang pintar –karena selama ini hanya berada di ranking tengah. Maka, di tahun terakhir SMA ini, Fulan bertekad akan mulai serius dalam belajar dan belajar. Dia tahu bahwa nilai rapornya standar dan ia agak pesimis apakah bisa mendaftar kuliah melalui nilai rapor. Namun, hal itu tid...

Merasa Tidak Adil

  Karena kita manusia. Selalu membandingkan diri dengan orang lain. Membandingkan kenikmatan yang kita miliki dengan yang orang lain miliki. Rumput tetangga akan selalu lebih hijau, bukan? Malam itu, kamu sedang berada di depan teras. Memandangi indahnya para bintang yang sedang berlomba untuk menyinari kegelapan. Bulatan cahaya purnama ikut menyertainya. Seolah merasakan apa yang kamu rasakan kala itu. Udara malam begitu dingin hingga menusuk tulang. Pikiranmu pecah. Sedari tiga puluh menit yang lalu, air matamu terus mengalir tak bisa kau hentikan. Hanya ini yang bisa kau lakukan demi menenangkan hati. Menumpahkan rasa sesak yang membuatmu ingin berteriak saat itu juga. Tapi, tidak mungkin, kan? Mengingat masalah yang terus muncul tiada henti. Masalah pertama, keluarga. Keluargamu terbilang ekonomi standar. Tapi teman-temanmu selalu mengajakmu ke tempat-tempat mewah. Tak jarang kamu merasa terkucilkan karena mereka tidak mengganggapmu sebagai teman akibat beda ‘kasta’. ...

Good-Looking bukan Segalanya

  Good-Looking bukan Segalanya Apakah menjadi manusia termasuk ujian? Yang karena keluhan-keluhan itu keluar dari mulut mereka akibat masalah terus bermunculan tiada henti. Banyak yang menangis, hendak melakukan percobaan bunuh diri karena tidak kuat; meskipun sebagian lainnya sanggup menghadapinya. Tapi, tetap saja, kala usaha sia-sia maka kalimat ‘aku enggak berguna’ terucap tanpa permisi. Well, as we know, saat ini sedang maraknya pembahasan mengenai good-looking . Kenapa, sih, manusia tidak bosannya membahas topik–yang padahal hal itu malah membuat timbulnya keresahan dalam diri mereka sendiri? Mungkinkah karena ketampanan atau kecantikan seseorang menjadikan perusahaan ternama meng-acc curriculum vitae mereka? Ketika kamu hendak melamar pekerjaan impianmu, sudah siap berpakaian rapi untuk pergi ke suatu perusahaan; kemudian kamu berpapasan dengan temanmu–yang semasa sekolah menjadi incaran cowok, juga melamar di divisi yang sama. Cantik sekali, gumammu. Setelah mengobr...

Kutipan Untukmu

  Kutipan Untukmu Dunia memang sungguh kejam. Tak mau peduli apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh manusia. Tak mau tahu apa yang saat ini sedang dirasakan oleh manusia. Sekejam itu. Membiarkan manusia melawan arus kehidupan yang terus menekan. Kita manusia. Roda kehidupan terus berputar. Ada kalanya kita berada diatas, dan ada kalanya kita berada dibawah. The end , mengeluh sudah menjadi hal yang lumrah terjadi. Tak dapat dipungkiri kita selalu berurusan dengan masalah hati. Kadang bahagia, kadang down , atau bahkan seringkali sampai puncak stress. Kita semua sudah paham, terlalu sering mengeluh bukanlah hal yang baik. Mungkin, mengeluh pada tiap orang beda-beda, ya. Masing-masing memiliki kasus yang berbeda. Generally , mengeluh karena minder atau tidak percaya diri. Mengeluh karena tidak puas terhadap keadaan yang sedang dirasakan saat ini. Terutama mengeluh terhadap kondisi fisik, itu realita terjadi. Hmm, kondisi fisik, ya. Jarang sekali orang tidak membicarakan ha...

Insecure, Again.

Insecure, Again. Bolehkah aku bertanya kepadamu berapa usiamu? 15? 17? 18? Atau, diatas 20? Well , kalau diatas 20, berarti kita sama. Hmm, aku tidak akan menyebutkan spesifik berapa umurku, tapi aku akan membahas tentang sesuatu yang sering diresahkan oleh remaja di umur segini. Insecure sudah menjadi hal yang sering dibahas oleh anak muda. Terlebih bagi anak milenial, kata insecure seperti sudah menjadi headline yang tiap hari selalu muncul. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang sampai over insecure hingga puncak stress tak bisa dikendalikan. Menurut web alodokter.com, insecure adalah perasaan cemas, tidak mampu, dan kurang percaya diri yang membuat seseorang merasa tidak aman. Akibatnya, seseorang yang insecure bisa saja merasa cemburu, selalu menanyakan pendapat orang lain tentang dirinya, atau justru berusaha memamerkan kelebihannya. Enggak ada yang bilang, kok, insecure tidak diperbolehkan. Justru itu adalah sesuatu yang sebenarnya normal terjadi. Namun, pada sebagia...

Syukur Tak Bertepi

  Syukur Tak Bertepi “Syukuri aja apa adanya.” Kurang lebih seperti itu nasihat yang sering kita dapat dari teman atau keluarga. Memang mainstream tapi bermakna. Terlebih jika betul-betul memahami tafsir dari kalimat tersebut, sudah pasti auto menjadi manusia yang paling bahagia. Kenapa tidak, karena salah satu kunci mendapat kebahagiaan di dunia adalah menanamkan rasa syukur dalam hati dan mengamalkannya dengan anggota badan, sehingga kita tidak terpengaruh dengan kondisi orang lain yang berada di puncak. Benar. Rumput tetangga selalu lebih hijau. Mau seberapa besar usaha kita untuk menyamai mereka, tetap saja mereka lebih unggul. Sometimes memang kita harus menyendiri tanpa hiraukan kebisingan dunia dan segala isinya. Di suatu hari yang cerah, dibawah awan putih yang hendak berpadu dengan birunya langit, ditengah luasnya bukit, kakimu mencoba menapak rerumputan hijau yang bersatu dengan warna-warninya bunga. Udara kali itu sangat menyegarkan penciuman. Seketika otakmu yan...

Ujian - Sabar 3

  Ujian – Sabar Lagi-lagi pembahasan tentang sabar tidak ada habisnya. Tak pernah lelah aku nasihati terutama diri pribadi, untuk terus bersabar. Apapun dan bagaimana pun kondisinya. Dimana pun kamu berada, kala tekanan telah membuatmu ingin meronta, tersenyumlah, karena kelak sabarmu akan berbuah pahala, insya Allah . Tiba-tiba aku teringat dengan sebuah kisah yang sungguh luar biasa menggugah hati bagi yang mendengarnya. Di zaman Bani Israil, tepatnya dibawah kekuasaan seorang raja yang mengaku Tuhan. Ya, Fir’aun yang dikenal sebagai raja terbengis. Walaupun tanah selalu subur, tak jarang Fir’aun bertindak semena-mena terhadap rakyatnya. Sampai Allah menurunkan utusannya untuk mendamaikan bumi yang penuh kekejaman itu. Setelah melalui rintangan penuh terjal mengorbankan nyawa hidup dan mati, atas izin Allah dakwah Islam mulai dikenalkan oleh Nabi Musa dan saudaranya, Harun, kepada kaum Israil. Mereka mulai menyebarkan agama yang diridhoi Allah. Namun, ajaran ini cukup banyak ...

Ujian - Sabar (2)

  Ujian – Sabar Sebelum kita beralih topik, mari selesaikan dulu pembahasan mengenai sabar. Seseorang yang sabar dalam menghadapi ujian yang Allah berikan kepadanya, pasti akan ada ganjaran berlipat-lipat. Kesabaran identik dengan sesuatu bernama musibah. Tahu, ngga, sih? Bahwa musibah akan menghapus dosa seorang hamba. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal tersebut, “ Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim, bahkan sekedar duri yang menusuknya sekalipun, melainkan Allah akan menghapus kesalahannya. ” (HR. Bukhari dan Muslim) Sahabatku, mungkin sebagian kita ada yang kurang puas dengan solusi ‘sabar’. Baik, coba kita amalkan doa yang pernah diajarkan Nabi kepada kita. Siapa tahu, kan, dengan membaca doa ini hati bisa lebih tegar. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah mengajarkan doa berikut, “ Allahumma ajurnii fii musibatii wakhlif lii khairan minhaa (Ya Allah, limpahkanlah kepadaku pahala atas mus...

Ujian - Sabar

Ujian - Sabar Ujian kehidupan tak henti-hentinya terus turun pada tiap insan. Seolah sudah menjadi rutinitas sehari-sehari, ujian seperti kebutuhan primer layaknya sandang, pangan, papan. Namun, yang menjadi permasalahan utamanya adalah apakah kita lolos dari ujian tersebut? Sebelum kita masuk ke topik itu, mari tanyakan dalam diri. Sebenarnya kenapa Allah memberikan ujian kepada kita? Mungkin sebagian dari kita sudah mengetahui jawabannya. Ada yang berpikir bahwa ujian diadakan, ya, memang untuk menguji. Menguji bagaimana kualitas sabar seseorang, menguji seberapa besar keimanan ia kepada Rabb-Nya. Benar, kok. Tapi, pernah ngga sih ada satu pertanyaan yang terlintas dalam otak kita. Kenapa harus kita yang diuji? Misal, kita mendapat ujian berupa kehilangan barang berharga, orang yang dicintai, atau sejenisnya. Sedangkan yang lain tidak diuji seperti ujiannya kita. Pernahkah ada berpikiran seperti itu? Aku yakin sih, pernah. Coba kita simak perkataan Allah dalam kitab-Nya di su...